Pada organisasi teknologi kontemporer, sangat lumrah jika ada sebuah tim yang dikhususkan untuk memelihara infrastruktur baik itu pada cloud platform atau yang berbentuk fisik di datacenter alias on-premise. Meskipun banyak organisasi, yang bertahap menuju mode no-ops, tapi setidaknya, ada satu atau sekelompok manusia yang berurusan dengan infrastruktur. Pengingkaran pada pekerjaan infrastruktur adalah halusinasi belaka.

Seiring organisasi berkembang, entah skala bisnis, karyawan maupun produk tim software engineering, maka biasanya semakin banyak hal yang mesti ditangani oleh tim infrastruktur. Bisa jadi pada bagian logging, tadinya cukup 1 log server, kini ada kebutuhan untuk mengembangkan sebuah perkakas untuk menganalisa log yang mempermudah pekerjaan berkaitan dengan penanganan insiden. Atau perkakas untuk continuous integration yang tadinya hanya dipakai untuk 10 jobssekarang dipakai ribuan jobs. Dan masih banyak lagi.

Ada beberapa hal di ruang lingkup tanggung jawab tim infrastruktur yang ikut scale bersamaan dengan berkembangnya perusahaan. Beberapa di antaranya dapat diserahkan ke pihak ke-tiga, namun atas berbagai pertimbangan, organisasi dan manajemen memutuskan untuk dipelihara oleh tim itu sendiri. Berbagai hal tersebut bisa jadi menyangkut kompleksitas antara biaya dan kebutuhan spesifik, atau komplikasi antara aturan dan ketersediaan opsi di luar sana, atau bisa apa saja. Keputusan menangani pengembangan tanggung jawab di berbagai sisi tanggung jawab tim infrastruktur ini mengarahkan pemisahan bagian kerja atau spesialisasi kerja.

Normalnya manusia adalah keterbatasan. Entah terbatas akal – pikiran, waktu – ruang, atau uang – etos kerja. Sebuah tim yang tadinya fluid sekarang harus terpisah atau silo-ed on purpose.  Pada sebuah organisasi yang mengakulturasi istilah DevOps tentunya ini seakan bertentangan dengan salah dua konsep di dalamnya yang mengagungkan sharing knowledge dan sharing responsibility. Berbagi pengetahuan dengan harapan dapat berbagi tanggung jawab bersama semua anggota tim (baik pengembang maupun infrastruktur). Jika DevOps adalah Kal-El, maka Silo adalah salah satu batu kripton yang dapat melemahkan konsep dan kultur ini.

Entah konsep berbagi tanggung jawab ini terlalu naif, atau sebenarnya Silo adalah keniscayaan, tapi sebenarnya segala keterbatasan tersebut menjadi peluang mengeruk pundi – pundi emas dengan menyediakan jasa untuk meringankan beban organisasi. Jika disadarkan, pilihannya apakah kembali mempertimbangkan pihak ke-tiga alias kapitalis masalah – dengan memaklumi dan menerima kekurangan, atau masih bersikeras pada bentuk organisasi infrastruktur yang tidak ideal – dengan memaklumi segregasi antar bagian. Pilihan yang seolah berputar dalam limbo pikiran.

Diskusi? Yuk lah!